Omong Kosong

Siapakah? Pikirku melayang berserakan

Kulit putih, mulus, semampai

Kulit putih minus, mulus minus, semampai dipertimbangkan

Cantik, siapakah?

Diamku,

Katanya menjadi cantik tak perlu putih

Nyatanya, si putih diagungkan sedangkan si putih minus ditelantarkan

Katanya menjadi cantik tak perlu mulus

Nyatanya si mulus di elus sedangkan si mulus minus di dengus

Katanya menjadi cantik tak perlu bersolek bergincu

Nyatanya si putih solek bersemu sedangkan si putih minus merancu

Katanya menjadi cantik itu tanpa pandang bulu

Nyatanya bulu ditemu, mata menunggu, hati merindu

Wah.. Pikirku, siapakah?

Jika si putih polos berkata, tak perlu menaburkan gincu sedangkan bibirnya sudah merona bak apel madu

Lalu bagaimana si putih minus memadu, bibir kelabu dipoles semanis madu, cantik?

Ya.. Pikirku.

Tapi si putih berkata, berlebihan. Madu, bukan perihal memadu tapi rasa dikalbu.

Omong kosong.

Si putih bersolek bak kesemek beludru, cantik katanya

Sedangkan si putih minus bersolek bak cokelat madu, berlebihan katanya.

Ternyata manis, lalu ada yang egois.

Katanya si putih menjadi fokus orang, sayangnya si putih minus menjadi pujaan bayangan

Katanya si putih berhati lembut seperti salju, nyatanya dingin dan menusuk dikala sendu

Katanya si putih minus gelap menghantui kalbu, nyatanya bersinar di antara awan kelabu

Sekali lagi, siapakah?

Salahku, memikirkan keegoisan setiap kata

Benar menjadi benar jika di putih ratakan setiap kalinya

Benar menjadi salah jika di abu ratakan setiap baginya

Salah menjadi benar jika di hitam ratakan setiap pandangnya

Salah menjadi salah jika di ungkap ratakan setiap katanya.

Egois.

Cantik bukan tentang siapa

Cantik bukan tentang kelihatannya

Cantik bukan tentang katanya

Ya.. Cantik itu…

Hatinya, sikapnya, santunnya..

Cantik itu bukan kelihatannya, tapi perasaannya.

Jadi, siapakah menjadi siapa?

Siapakah menjadi apa?

Jawabannya tergantung dimana letak keegoisanmu berada.

Hah. Omong kosong.

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai